Aku takut, lama kelamaan aku akan tertelan oleh ambisiku sendiri
Aku takut, jika nanti ambisiku sendiri yang akan mengambil kemudi hidupku
Tak semudah meniup lilin yang menyala, ambisi itu bisa jadi seperti debu, selalu ada walau tak pernah terlihat
Bahkan sekarang aku sedang dibuat bingung oleh ambisiku sendiri
Terlalu banyak
Terlalu tinggi
Itulah aku, ambisinya jauh lebih besar dibandingkan kemampuannya
Dia yang senyumnya tak pernah rapuh tapi selalu merapuhkan jalanku. Segenap pandangan yakinnya yang justru membuatku semakin tersesak di garisku. Telah lama, dia susuri kerikil - kerikil di bawah redupnya biru yang membentang. Bahkan jauh lebih lama dari aku yang baru saja mengerti apa itu debu.
Entah...
Aku selalu saja membantah...
Aku tak pernah ingin menyadari bahwa dia yang selalu menggenggam erat pagar - pagar jalanan itu ternyata terlampau jauh menyentuh hatiku. Aku tak pernah ingin mengakui bahwa dia yang selalu berjalan dalam bisu ternyata bisa begitu dalam menyusuri setiap lapang - lapang hatiku.
Dia, yang hanya diam dalam kedipan matanya. Selalu saja bisa menangkap derai - derai sepi yang aku rasakan.
Jika saja aku tak pernah mengenalmu, mungkinkah aku takkan pernah berpikir tentangmu? Akankah langit malam akan tetap cerah? Ini tahun kedua, sudah terlalu lama untuk terus mengenangmu. Seharusnya semua sudah tak lagi menjadi cerita duka, bahkan seharusnya aku sudah bisa tersenyum untuk mengingatnya. Karena mungkin sekarang, kau ada ditempat yang lebih baik.
Aku mungkin terlalu egois untuk tetap ingin mengenangmu. Tak seharusnya kau masih ada dalam tulisan ini. Dua tahun lalu, dua tahun lalu! Semestinya sudah terkubur dalam - dalam, bahkan sangat dalam. Tapi kenyataanya, bahkan aku masih tak mau untuk mencoba mengerti. Mungkin aku terlalu takut untuk benar - benar terlepas darimu.
Ini tidak semestinya menjadi semak dan ilalang diantara belukar dan sayupnya suara rayap di bawah tanah. Ini belum usai, aku masih merangkainya. Aku tak semestinya menjadi rangkaian mimpi yang runtuh dimakan semut, bahkan aku masih mampu untuk merenggangkan tanganku menyentuh cita itu, walau hanya sentuhan tak menentu. Aku masih mencoba merangkai, namun aku sudah runtuh.
Aku belum putus asa, walau asa itupun hanya debu dalam jariku. Tapi aku masih memilikinya.
Aku akan terus merangkai, sampai aku menjadi pelangi di seberang hujan sana, hingga semua melihatku sebagai binar dan warna, hingga aku tak lagi sakit terinjak - injak.
Aku hanya manusia yang berdiri di persimpangan. Nafasnya hanya sehela- helai rumput di sawah. Matanya selalu bulat tapi selalu kosong. Aku ini manusia penghuni persimpangan. Berjalan tapi entah ke mana hendak tujuannya. Bernyanyi tapi entah apa yang ternyanyikan. Berpikir tapi tak mengerti akhir pikirannya.
Aku hanya mencoba untuk tidak peduli lagi dengan apa yang aku rasakan. Persimpangan ini terlalu rumit. Aku ingin berhenti, berhenti peduli pada rasaku yang seharusnya tidak untukku. Selalu menangisi dirinya setiap malam menggema. Seperti manusia bodoh, berhari - hari bersama bayangan semu.
Terkadang angin membuatku iri pada debu...
Debu itu terbang kepadamu lalu kau menyentuhnya...
Aku iri pada debu yang kian mudah memelukmu, menari dalam genggamanmu, rasakan rindu itu terbang terbawa sayupnya angin yang menerpa...
Mengapa kau begitu dekat dengan debu? Lalu denganku tidak...
Langkah ini selalu beserta rindu...
Aku tak suka bahwa aku rindu padamu...
Aku tak suka bahwa kau membuatku rindu...
Padi padi itu hanya diam, padahal biasannya menari riang...
Angin juga membisu, padahal biasanya merengek jika tak disapa...
Siang ini matahari bersama sinarnya, memancarkan hangat tapi hanya sedikit membuatku berkeringat...
Aku banyak herannya hari ini...
Tak seperti biasanya padang itu sunyi tanpa kupu kupu dan juga kumbang merah...
Aku resah jika mereka tiba - tiba menghilang...
Bagaimana jika semuanya akan benar - benar menghilang?
Entahlah, semua pikiranku hanya untuk keresahan dan ketakutan...
Hujan, apakah kau mau dengarkan do'aku pada Allah di sana? Hujan, aku selalu minta pada-Nya untuk menyederhanakan aku. Aku mungkin sudah terlalu lelah melihat mimpi - mimpi itu mengejarku.
Tuhan, aku ingin menjadi seseorang yang sederhan, seseorang yang selalu bisa menyadari semua kenikmatan-Mu. Tuhan, aku ingin menjadi sederhana, seperti abu yang ringan tertiup angin, begitu sederhana. Seperti suara tangis jangkrik dalam sunyi malam, begitu sederhana.
Tuhan, sederhanakan aku...
Malam...
Yang tak pernah lupa akan rindu
Rindu itu seperti hatiku,,
Adakah yang mengerti bagaimana hatiku?
Ada, dia...
Terlampau lepas dia pernah rekam hatiku...
Tanyakan saja padanya,,
Tentang rindu yang dia bawa lari...
Entah ke mana, entah di mana...




