Dari Hati

dalam rindu yang tak pernah pulang

22.31

 June 19, 2025

Sudah lama aku berhasil pura-pura berdamai— seolah lupa, seolah sembuh, padahal aku simpan rindu yang amat sangat. Bahkan sekarang— rindunya menetap dan diam-diam tumbuh— menyesap pelan dan berdetak dengan lirih.

Aku masih berharap aku punya pelukmu, menggenggamku erat— menjadi jangkar di sisa-sisa hariku yang kian berat dan penuh keluh, dalam senja yang kian pucat, dalam waktu aku sering bingung harus berlabuh di mana. 

Akhir-akhir ini, aku seperti hampir remuk—- atau malah sudah— perlahan repas, retak.

Bagaimana rupaku dari atas sana? Sudahkah aku tampak lebur, seperti abu yang segan terbawa pergi? 

Aku bahkan rasanya tak kuasa untuk terisak.

Ternyata sulit, tidak semakin mudah, bahwa kehilanganmu tetap akan sulit. Aku masih saja terjatuh, dalam kenang yang tak tahu diri pulang.

Malam ini, langit redup. Maukah kau datang, semai sedikit asa di pelataran dadaku yang lengang. Panggil namaku—- dengan lembut, dengan irama indah yang ku suka seperti biasanya, seperti doa yang diam-diam kau pernah panjatkan. Ucap sedikit pujian— bahwa aku hebat walaupun hidup tanpamu berat.

Sebelum sunup datang, kalau peluk terasa berlebihan, temui saja aku dari kejauhan, biar aku bisa memandangmu walau jauh, biar aku tak semakin jatuh— semakin dalam.

Andai semesta berbelas kasih, aku titip rinduku sehelai saja, agar terbawa sayap angin— agar Tuhan sampaikan pesanku padamu…

“Aku masih terhempas dalam dinginnya rindu, masih sama seperti bertahun-tahun lalu.”

Dari Hati

23.14

September 9, 2018


Jika ada sesuatu yang terkadang mengusikmu, aku harap itu bukan kiriman umpatan jarak jauh dariku. Karena aku tak bisa untuk diam saja, membiarkanmu merebut dan menempati setiap petak lobus memoriku.

Musim hujan akan segera datang dalam beberapa minggu ke depan. Hujan juga sudah mulai sering singgah dan membawa angin beserta riuhnya pesta gumul-gumul awan abu-abu. Kemudian hatiku akan menjadi kusut sedikit demi sedikit karena terdesak kenangan yang akan sering mampir di sela jendela dan hujan. Kusut masih bukan masalah, tapi bila kusut kemudian terberai rindu yang terelakkan? Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Semakin rindu, tetapi aku semakin tak ingin bertemu.

Beberapa bulan lalu, di senja yang hangat, aku harap itu akan menjadi kenangan terakhir untuk beberapa waktu ini. Artinya, aku masih belum mau bertatap lagi dalam keadaan bingung seperti ini. 

Aku telah menyelesaikan sebagian besar urusanku, kemudian setelah lama aku tak pernah rindu sehebat ini, tiba-tiba di satu bagian otakku, di bagian parietal kanan dan kiri otakku, di mana aku menyimpan namamu, wajahmu, dan cerita tentangmu, tiba-tiba seperti kebanjiran dan meluap-luap.

Aku masih bingung harus berkata dan berbuat apa. 

Aku pikir aku telah lupa atau setidaknya hilang rasa.

Tapi ternyata kemarin-kemarin, aku hanya sesaat merasa hampa.

Dari Hati

22.20

September 3, 2018

Aku pernah lupa, kalau sebenarnya aku masih mengagumimu, jingga yang kemerahan. Saat itu, mungkin, aku sedang kalut, atau hanya sibuk dengan urusanku sendiri. Ingatanku tak kuasa untuk mempertahankan rindu itu dan kemudian menyerah untuk beberapa saat, membiarkanku menjalani hidup tanpa kerinduan untukmu. 

Tapi setelah aku mampu menempatkan semua pada tempatnya, bagian dari ingatanku muncul lagi, iya, ingatan tentang bagaimana telah lama aku menyimpanmu lama di dalam sana. Aku tak pernah khawatir sedikitpun, jika suatu saat nanti otakku mulai bosan atau ingin sesuatu yang lain. Iya, karena rinduku padamu tidak seperti jagung kernel kaleng yang mudah basi walaupun aku letakkan di lemari pendingin. Buktinya? Sampai sekarang, perasaan itu masih tetap hangat membekas, sehangat hari terakhir aku melihatmu.

Setelahmu, setelah kamu datang, kemudian pergi.
Aku tak pernah ingat, siapa lagi yang pernah singgah, karena mungkin tidak ada. Alasannya karena mungkin perasaan yang kamu tinggalkan terlalu luar biasa sehingga belum ada yang mampu menggantikan, atau waktu-waktu yang pernah kita habiskan bersama telah membuatku enggan. Aku enggan untuk memiliki kenangan-kenangan, yang pada akhirnya hanya menjadi ingatan yang menyesakkan.

Aku bukan menunggumu.

Aku juga tak berharap kedatanganmu.

Kalau aku berdoa tentangmu, itu pasti karena aku telah putus asa karena kamu enggan pergi dari perasaanku. 

Suatu saat, aku pernah berdoa, untuk setiap waktu, tiba-tiba ingatan tentangmu hadir, teguhkan hatiku, karena aku hampir selalu tak mampu menahan besarnya rindu yang menderu.


Dari Hati

16.19

January 21, 2018

As if time is not ticking, the memory of you never get old.

There has been too much thing I have kept my self, for you, to be told.

If it was only for those reasons, you should have stayed. 

You had never once, said truly how you felt. 
You had never once tried, to even say what you liked.
That way, you let us, be the word that never completed.

Your way, to be used to not saying words, to be used to agree of what I decided, shouldn't let me left distrait.


Dari Hati

Between Hustle

23.18

November 29, 2017

My heart beats crazily forget to ease.
The morning nowadays start with half running, half breathless, and half curse.

Between the hustle.

I, of course, never failed to catch you.
The morning coffee that soothes my thumping heart.
My morning caffeine lies on your weary eyes of last night's stay up.
Your restless smile appeases all worries.

Between the hustle.

Your hello is composing.



Dari Hati

Good Night Whispers

23.55

September 22, 2017

credit to @EmelyMC
If there's one I would tell about you, it would be your good night whispers.
Your deep husky voice streamed through out the night, my night.
Remember? What you never left out of your good night whispers?
a good night word, with awakening laughs.
laughs that failed me to sleep.

Remember? What I told you everyday when your call came?
to stop harassing my theta wave.  
Because your call was a sympathomimetic.
you stupefied me, making my heart got arrhythmic.




Dari Hati

In Turmoil

01.27

April 24, 2017

As if we are strangers...

Your hello was cold.

Your smile was vacant.

As if we no longer recognize one another.

To certain extend, I want to believe about miracle. It may happen, even if I am not sure of when and how, but I hope that I would meet upon a certain kind of a miracle.

Late afternoon tiptoed through the window of the living room. 

I was in turmoil.

Aren't my eyes painted with black shades? 

Aren't you see the visible scars?

I felt my self a little die either. Uneasy emotion marred my soul, practically the whole act. The air is no better, it smelled like a hassle for some reason. 


Waiting doesn't heal.

Time doesn't conceal.

The right incisively memory still persist like new.

And I have been fed up to chew.


Dari Hati

I MIght Be Wrong...

20.26

March 11, 2017

credit to: @comegatos011


This is just going to be some revelation from every inflexibility I have been holding the last twelve-months trying to be out of my comfort zone from being an individualist-person, the home-person who rather go home than straying out thinking about things.

I have been into my self too much, maybe, for others to see. But it's just the enough dosages that I want to be into me, my self, and I. Where I put a box inside my mind and eliminate any aliens things out of my box of thinking. Yes, it's been all about me. It just happened to be that way without me knowing that I am begun to looked like a carefree person from anyone's problems, an phlegmatic person who only knows about things that meant for me, no others. 

As I remember, I was a busy student in high-school. It wasn't a normal days  I had back then in high-school. I didn't attend classes as much as my friends did, not sitting on my seat as long as everyone did. Rather, I would be outside preparing for competitions, join training, even camps for days. I read books alone, studying for exams on my own, and I found it really fun to be doing everything alone. It was more effective and I could better grades. 

There was one day I could clearly remember when I had to have physics exams the next day while I never attended classes. I studied on my own, reading three books I bought the night before, I knew right that it was my consequences for being very active student that I needed to study harder than others. I felt ready even there was a slight uncertainties because I didn't get what my friends' got. I came to school and did the examinations quiet well. Do you know what the result I got? I got 97% while more than 70% of my friends caught on a remedial exam. And it always happened, I knew that when I study alone, I read more books and I got more knowledge while my friends usually only read their notes. And from there, I was being too comfortable for being with only my self.

I often watch alone at the cinema, getting my own popcorn and one cup of cola and sitting alone between couples, but that wasn't make me awkward at all. I understood my self the best when I am alone. 

And more...

I am going to say that I got into university in my town, around 15 to 20 minutes away from my home. But that's not my dream university. And honestly, until now I still realize it well how I envy others who are know studying in my dream university there while I am not. There was a condition that prevent me from going out of town. And up til now, I regret it so much. I blame it all on my self how I even couldn't write my dream university on my university application at that time. Why didn't I have a courage to do so?

Well, I came with my apathetic kind of character. I don't care with everything happens around, I just want to go as fast possible from the university. I am not happy, not enjoying any moment. I even tried to limit my self from any activities that would exhaust me a lot.

Up til now, my intention is still to go out as fast as possible, not suffering my heart even further.
If only I could turn back time...

This thought I bear in mind might be wrong for anyone, but I believe I do have my veto to say that I hate this and that, I want this and that, and it's all my privilege as a freedom person to choose what situation is best for me. I might be wrong, but you can't prove the bestest life to have. 

Dari Hati

21.21

December 7, 2016

Di mana rindu ini akan bermuara?
Di antara ribuan teriknya hati yang menunggu.

Rasanya, aku mulai tak percaya dan merasa tak adil tentang "waktu yang akan menjawab..."
tak adil karena lambat laun aku menjadi lelah menunggu.

Bisakah kita hentikan candaan yang mulai tak lucu ini?
Dengan apapun caranya.

 Tak terasa...
mungkin malam mulai bosan mendengarkan.
aku juga mulai bosan.

rasa itu tak memiliki dimensi.
tapi melampaui jarak dan waktu itu bukannya tak sulit kan? 
tak mudah.

hampir tujuh tahun itu bukan main-main.
lama.
dan perasaan itu masih teretensi di sini, dengan rindu dan resah yang semakin membuatnya berkarat.

untuk kesekian kalinya, aku yang menjadi ragu.

Dari Hati

Hamba kepada Tuhan-nya

19.32

October 18, 2016

Tuhan menjawab pertanyaan dan harapan hambanya melalui langit yang tak berhingga. Entah mengapa semua prahara di dunia bisa terjadi, namun pasti ada keinginan pemilik semesta ini mengatakan sesuatu pada hamba yang penuh dengan kecurigaan dan kesalahpahaman ini.

Jika aku masih saja memendam prasangka, pasti karena tak cukup imanku untuk memahami maksud pertikaian antara air mata dan kemerahan di mataku. Tapi manusia seperti aku ini memang sangat gemar menuduhkan murka sembarangan, walau sebenarnya tak pantas.

Nafasku terengah-engah, disela air mata yang tak berhenti menghujam sesak dalam dada. Ini kali kedua, aku merasa patah hati karena kekecewaan. Sekali lagi aku merasa hancur dan enggan mencari alasan atas kegagalan.

Ingin kusampaikan beribu umpat dan hujatan kepada helai angin yang seperti menertawakanku...

Aku sebenarnya sedang mencari perhatian Tuhan, walau aku tahu aku tak perlu mencari.
Aku sebenarnya sedang ingin menunjukkan kesaksian betapa sedih dan hebatnya rasa kecewa ini karena ulah Tuhan. Tapi sungguh, aku hamba yang tak tahu diri!

Janji apa yang Tuhan harusnya penuhi pada hamba-Nya ini? Janji Apa?
Tidak ada.

Karena aku bukan pemilik semesta ini. Tak ada kekuatan rasanya untuk sekedar meminta Tuhan memenuhi keserakahan hamba-Nya. Memang tak ada.
Harus apa lagi?
Jika meminta untuk dikabulkan rasanya berlebihan, maka bisakah hanya meminta saja? Hanya meminta tanpa imbuhan keinginan untuk dikabulkan?

Apalah lagi yang hamba ini bisa hidupkan? Selain bernafas bersela doa dan syukur. Pemilik semesta ini tak pernah menagih uang kontrakan.
Kalau saja Tuhan itu perhitungan, habis diri ini dijualpun tak mungkin mampu penuhi itu.

Bersyukur sajalah dengan apa yang ada, jika telah pandai bersyukur, berita apapun yang Tuhan sampaikan, tak akan ada berat di hati,

Dari Hati

21.46

September 19, 2016

Untuk hidupnya harapan...

Salahkan resah, untuk waktu yang hanyut bersama keraguan. Aku ingin salahkan gelisah, untuk penat yang membuatku susah menghela nafas. Tapi, harus aku salahkan siapa ketika arah peraduan matahari justru memimpin langkahku pada-mu yang bukan hanya kiasan. 

Tuhan sampaikan kabar indah ini, mungkin telah lama juga Tuhan tuliskan titah ini bahwa pada saat itu aku akan akhirnya memutus sejenak kerinduan, walau kini sudah mulai meracau lagi rindu itu...

Hanya bertukar pandangan-pun melegakan rasanya...
Hanya beriringan senyum-pun luar biasa bahagianya...

Yang selalu berada membentang bersama mega, walau jauh, di lipatan langit entah bagian mana.
Yang masih enggan untuk tak berada jauh...

Tiupan rinduku membeku dan menjadi embun di sela jendela kamarmu...
Di satu embun di antara rindu-rindu yang bertebaran, satu itu milikmu...
Satu itu milikmu, dan di sinilah bagian hulu dari mana rindu itu mengalir. 
Semoga tak sia-sia dan sekedar hanyut bermuara di laut yang tak terhingga...


Dari Hati

Yang Membuatku Menderita Rindu Berkepanjangan...

20.20


"Awalnya catatan ini berjudul, Gemuruh dalam Diam. Catatan yang baru saja aku baca kembali dan aku tiba-tiba merasa lucu karena pernah menuliskan hal-hal murahan itu menjadi sebuah memo panjang. Entah ketika itu apa yang aku pikirkan, tapi aku senang bisa melihat kembali bagaimana aku telah tumbuh..."

...

Gemuruh hatiku, dalam pelupuk kesendirian...

Sepi membunuh kalbu...

Meremang dan menjadi gelap, goyah...

Mendesir, menghanyutkan helai nafas...

Menapak jalan dalam kesendirian, aku selalu mencoba untuk tak mengingatmu. Dalam himpitan waktu, apalah yang bisa aku perbuat, melihatmu telah berani berjalan dalam pilihanmu sendiri. Tak mungkin aku butakan mataku, tak mungkin aku pecahkan telingaku, tapi bukan juga hal mudah membiarkanmu tetap melangkah menjauh. Hatiku menjadi geram tak main-main...

Ini kesekian kalinya aku terdorong lenganku sendiri. Berlutut bisu, dalam benak takpun ada tinta cerah menampak. Kesekian kali merasuk dalam pikuk gemuruh hati penuh dusta. Beribu waktu yang aku tapaki, ini kesekian kalinya aku merasakan basah mataku. Di bawah remangan bulan yang kusut, tak membiarkan ada sela pada wajahku. 

Hanya bangku kayu ini yang mulai keropos, yang berkenan menerima tangisanku. Mungkin bangku kayu inipun telah merasakan kesepian, seperti hatiku. Sendiri, memandang angan-angan, menjamur di tengah masa, dan tak seorangpun mampu mengerti.

Hatiku yang benar-benar sedang kacau kehilangan orientasi. Dia yang musim gugur lalu, masih bersamaku, kini telah hilang dalam kerutan masa.

"Tak baik menangis sendiri di tempat seperti ini."

Kebisuanku tergoyah, seutas suara menghancurkan dinding-dinding lamunku. Menggetarkan jantungku, yang barusan saja masih berdetak santai. Tanpa berpikir apapun, mataku bergerak mencari pemilik suara itu.

"Seberat apa masalahmu?"

Aku langsung memberatkan pandanganku pada segaris mata kecil di situ. Jari-jariku bergerak cepat menghapus titik-titik air mata di pipiku. Menyela sedikit nafasku yang tersesak isan seduanku. Aku menggeleng pelan, tapi wajahku tetap saja menyedihkan.

Itu dia...

"Tanpa kau memberi tahuku, aku mengerti seberapa berat masalahmu..." katanya lagi, kini duduk di sebelahku. Sombong sekali! Seakan dia pernah menjenguk apa isi hatiku...

Aku terdiam, tersentak dalam. Aku baru saja tersadar. Belum usai kami bercengkerama, tiba-tiba sekelilingku berubah menjadi sunyi. Aku bahkan belum selesai melepas rindu, tapi ternyata barusan hanya ilusiku.

Dia masih tak berada didekatku, jauh entah di mana.

Yang lama telah membuatku menderita rindu berkepanjangan....

...

Memo ini tercatat tahun 2010, hanya beberapa bulan sejak kepergiannya.

Ternyata rindunya masih sama pekat.


Dari Hati

22.09

Aku sedang tak ingin membagi kerinduanku ini yang semakin mencekam. Merasakan denyut nadiku sedang menggelegar di kepala, pasti aku sedang ingin benar-benar melihatmu...

Suatu saat, aku duduk di bangku kayu yang bersandaran, di pagi yang tidak dingin tapi menyejukkan. Ketika itu, nafasku tidak beraturan, ada yang ingin meledak di dalam dadaku, tapi ternyata itu bukan apa-apa yang serius, aku hanya sedang gugup karena hari itu adalah kompetisi pertamaku. Pantas saha, perempuan kecil berusia sebelas tahun dulu begitu terengah.

Apakah orang-orang terlambat? atau aku yang begitu semangat menyambut kompetisi pertamaku? Di tempat yang tak kukenal itu, aku hanya memberanikan diri untuk bersandar di kursi kayu panjang. Apa yang bisa aku lakukan saat itu? Hanya mengayunkan kaki-kaki ku yang tergantung karena kursi itu terlalu tinggi. Seperti itu hingga aku bosan dan ada bayangan yang aku lihat dekat tempatku bersandar.

Aku mengenalnya, dia laki-laki berbadan gilik yang cerdas, tak heran aku terpesona. Belum sempat aku temukan apa pesonanya, harus bertemu langsung untuk menemukan kesannya.

Dia bukan orang yang pemalu, dia tahu aku memandangnya dengan sedikit rayu dan ketika itu, ketika hanya aku dan dia yang ada di tempat asing itu, yang membuatku tak sanggup berkata, "Kamu suka denganku, ya?".

Aku hanya bisa dengar suara lucunya. Aku tak lihat bentuk ekspresi apa yang dia pasang saat itu, raut apa yang ada di ujung bibirnya, dan pandangan seperti apa yang berteduh di bawah bulu mata lentiknya. Aku hanya mampu tersipu dan membisu.

Rindu ini tentu semakin rindang, tapi tak seperti rimbun daun-daun beringin yang sejuk untuk tempat berteduh. 

Dari cerita masa kecilku, aku tak menyangka akan terus teringat hingga sekarang. Ketika dia telah hilang.

Sosok yang penuh kesan.
Kami memiliki hobi yang sama saat itu. Tak hanya itu, bahkan guru kursus piano kami adalah orang yang sama.

Semoga tempatmu bersemayam nyaman dan hangat, sampai jumpa di kehidupan yang lain. Rasanya benar-benar menyesakkan untuk menyadari bahwa sementara ini aku tak mungkin melihatmu lagi, entah sementara atau selamanya. Sudah lima tahun sejak hari yang tak terduga itu, aku tak ingin mengingat kapan hari pastinya. Inginku, itu tak pernah terjadi.

Dari Hati

suatu saat ku rindu...

21.14



Demi rasa yang tuhan limpahkan pada semesta, mungkin rindu harus tetap berujung rindu. Agar hangat rasanya, dua orang saling merindu dalam jarak yang tak menentu. Kalaupun aku mampu untuk mengurai seberapa panjang jingga ini akan terbentang, tak pasti juga aku akan menemukanmu, pria manis yang mengisi anganku. Aku tak ingin mencari apalagi berlari menyusuri raut yang kau sisakan untukku tahu tempatmu berada. Aku tak berani menghadap, menatap, walau sekejap, entah apa, tapi aku ragu.

Dalam suatu rindu yang pernah aku tak mampu menahannya, saat itu sebuah mimpi yang tak pernah aku nanti hadir di sela keinginanku untuk senyap terlelap. Pria manis yang aku harap masih aku dapat katakan milikku, kau menyapaku dengan senyum berjuta rasa. Aku mampu melihat jelas bulu matamu bergerak-gerak mengikuti kedipan halusmu. Saat itu saja aku merasa terganggu, yang seharusnya aku merasa haru, tapi hanya tersisa ragu. Aku tak ingin mimpi itu hanya menjadi mimpi, tapi bahkan aku tak berani menginginkannya sebagai janji.

...

Mungkin tuhan membuatnya jalannya, di mana kita bertemu melalui birama-birama rumit yang kita suka memainkannya menjadi nada manis di ata piano. Mungkin itu juga mengapa, aku tak bisa menjaga dan berpura-pura untuk tidak gugup saat siapapun memainkan piano. Karena rasanya, aku ingin kembali pada saat itu, ketika nyanyian yang paling aku suka adalah raut lembut wajahmu yang bersahaja saat memainkan nada sederhana. Sederhana pun mampu membuatku jatuh berulang kali...

"Tahu mengapa lagu-lagu mu selalu menjadi yang terbaik?"

"Karena hanya aku yang mampu menangkap gelombangnya..."

Aku bergumam karena aku memang rindu,

bersama lagu indah Yiruma, river flows in you...

Dari Hati

a memo

21.24

Di mana lagi aku dapat bersembunyi dari seberkas rasa yang dari dulu memang tak pernah lekang. Walaupun tidak lagi ada mimpi yang ku coba rangkai untuk menggapainya, tapi tak juga lekas membuat hatiku menyerah membuangnya. Tak juga...


Raut indah malam yang telah larut bersama sedikit resah, aku tak menemukan lelah untuk kemudian menyerah. Bukan tak pernah ku coba, tapi bagaimanapun itu, semua hanya menjadi sia. Ternyata aku masih ingin mengingatmu, di antara hujan yang tengah turun, mungkin salah satunya adalah bias wajahmu.

Sudah lama, kan?

Biasanya kita bertemu lewat pesan singkat yang membuatku hanya senyum-senyum saja...




Dari Hati

Awal Musim Semi, dan aku merindukanmu...

15.38



Entah dari sudut mana ku memandangmu dibalik angin musim semi yang hangat, kau tetap menjadi sosok yang tak pernah ku lupa. Saatnya hujan untuk berhenti meneteskan kasihnya, saatnya langit untuk tersenyum membalut sinar matamu dengan cahaya indahnya, bola mata yang kecoklatan, yang sinarnya tak pernah sirna dari anganku...

Sudah berapa lama? Tepatnya berapa musim semi yang telah terlewati? Sejak jejakmu menjauh dan pergi?

Mungkin aku tak akan lagi mengenalmu, wajah manismu yang dulu, mungkin telah berhias dengan mimpi-mimpimu dengan semua cita yang sebentar lagi kau akan dapatkan. Mungkin kau menjadi jauh lebih tinggi, mungkin saja kita tak akan pernah lagi bisa bersandar bersama, karena kau telah tumbuh menjadi dirimu yang sekarang...

Untuk musim semi yang terlewati, disetiap mahkota bunga yang tertidur panjang selama musim dingin, aku tak pernah lupa untuk merindukanmu. Walau telah tertutup salju ataupun membeku, walau telah terbungkus embun atau rapuh berdebu, aku tak pernah lelah untuk merindukanmu.

Aku ingin selalu mengajakmu berirama, bersama ilalang yang kini dapat bertemu jingga, entah kau mendengarnya atau tidak, aku ingin mengajakmu bercengkerama, lewat kicauan burung yang kembali ceria di bawah mega.

Mungkin tidak bisa?

Mungkin hanya sebatas asa?

Atau mungkin hanya setengah rasa?

Tak apa, jikapun kau tak mampu mendengarku, jikapun kau telah menumpuk ku jauh di bawah masa-masa indahmu kini, selama aku masih mampu melihat jingga, itu artinya kau baik-baik saja.

Kau wajah manis yang muncul di sela jingga, dulu...

Yang membuatku tahu, walaupun mega hanya sekekap berwarna ungu, tapi hangatnya, dapatku rasa sebanyak yang aku mampu...

Walaupun aku tak tahu seberapa jauh jingga ini terurai, tapi jika senja hadir, kau pasti akan baik-baik saja...

Untukmu, rindu yang rindang, seperti teduhnya rimbun ilalang...


Dari Hati

Januari..

00.23


Di sela hujan yang sesekali datang, raut wajahmu tak pernah usai tergambar di atas embun-embun yang singgah. Tak kenal pagi atau bahkan ketika senja menghadang, walaupun aku telah mencoba untuk berkali mengusapnya, garis binar yang dulu selalu aku lihat kembali datang. Aku mungkin rindu, aku mungkin telah mulai merindukanmu, lagi, di musim hujan seperti musim lalu...

Begitu dalamnya aku telah mencoba menutup garis matamu, semua yang telah terlalui, telah aku coba untuk menguburnya dalam-dalam, tapi entah angin apa yang menerbangkan pasir-pasir itu, tapi entah siapa yang membukanya lagi...

Bersama kicauan penghuni senja, langit seakan membawa bayangmu datang kembali menjadi bagian dari lukisannya.

Aku telah lelah menghitung kapan, sejak terakhir kali aku melihatmu yang sesungguhnya, yang bukan hanya bayangan...
Aku telah lelah menghitung kapan, akhirnya mungkin aku akan melihatmu lagi yang sesunggunya, yang bukan hanya bayangan...

Dari Hati

Sebentar Lagi...

16.45


Langit masih menunjukkan misterinya, gelap yang legam terkadang bersama badai. Mungkin sudah lebih dari ribuan helai daun menyerahkan diri pada angin, tak mampu berpegang lagi pada ranting yang juga terlihat ingin mati saja...

Musim hujan akan segera menyerah, sebentar lagi. Walau angin-angin itu masih belum ingin berhenti, tapi aku yakin senja yang hangat akan cepat datang lagi. 
Menanti senja masih menjadi waktu yang aku rindukan, melihat ilalang-ilalang yang menari tertiup kejinggaan mega. Tahukah kau? Terlalu banyak kata yang aku simpan dan akhirnya hilang dibalik selimut tebal ini.
Hal yang indah di sini, menggelembung dihatiku, betapa ternyata aku telah terlalu merindukan gadis musim dinginku. Rindu itu kian menjadi indah, setelah akhirnya aku tahu di mana jejakmu sekarang. Walau salju tak mengizinkan ku melihat jejak tapakanmu, tapi ranting-ranting beku itu telah menunjukkan jalan.
Di sana, di tempat yang akhirnya aku tahu, jangan biarkan hujan membasahimu. Berdiamlah di rumah hingga badai usai. Dingin di luar begitu tajam, sedikit lagi. Aku akan menemuimu lagi, di setiap sela senja yang jingga. Lewat sayap-sayap burung perantau yang juga rindu, lewat bertumpuk-tumpuk hangat di ujung barat. 



Dari Hati

Sesal

11.23

Rasa sesal itu tak akan pernah sirna, pada kehidupan siapapun, aku juga yakin bahwan putri saljupun tahu apa rasanya menyesal.

 Awan ataupun matahari, mereka datang dengan cara yang tak pernah aku duga. Entah teduh ataupun cerah. Aku percaya, jika seseorang pernah menulis bahwa waktulah satu-satunya yang bukan makhluk yang paling rakus. Waktu-waktu itu hanya berputar, tak meninggalkan jejak, tiba-tiba saja pagi menjadi gelap, tiba-tiba saja aku telah berada hampir di ujung jalan.
Waktu-waktu itu yang memakannya, kan?
Siapa kalau bukan dia?
Tak pernah kenyang?
Atau tak mengerti arti lapar?
Sesal itu, selalu memaksaku untuk mencari sebuah pelampiasan, mencari seorang yang pantas aku kambing hitamkan, bukan memang aku yang ingin, tapi memang rasa sesal itu yang memaksaku untuk melakukan itu. Dan, akhirnya semua mengarah pada detak jarum yang tak akan pernah berbalik arah.
Aku baru saja sadar, terlalu lambar sebenarnya untuk sadar, bahwa aku ternyata telah berdiri sejak lama dengan tangan kosong, tanpa jaring penangkap serangga, tanpa garam untuk mengusir ular, tanpa apapun. Inikan yang namanya rasa sesal? Aku baru menyadarinya ketika kumbang-kumbang beracun berterbangan dii atas kepalaku, ketika beribu ular melingkar menghadangku, ketika aku tahu aku telah tak tahu bagaimana caranya menuju ke sana, ke tujuan akhirku. 

Aku menyesal,
Mengapa setelah tersandung batu besar?
Aku menyesal,
Aku baru tahu aku butuh perisai

Dari Hati

Serbuk Debu

19.48

Pagi tadi, aku meniup-niup debu-debu abu yang bersarang lemah di atas sepatuku, tiba-tiba saja aku merasa takjub ketika aku melihat serbuk-serbuk itu terbang diantara berkas-berkas embun, entah mengapa, itu terlihat seperti keajaiban...




Debu yang kulihat itu pasti ringan, bahkan mungkin sehelai rambutku masih beribu-ribu lebih berat. Debu itu datang dari jauh, mengapa memilih menetap di atas sepatuku? Mengapa memilih untuk bertemu denganku? Padahal, akhirnya mereka akan ku tiup, bahkan aku tak menyapanya sama sekali. Untuk apa debu seperti itu, tanpa mereka sepatuku saja sudah terlihat begitu lusuh.


Aku bahkan tak berpikir untuk mengucapkan selamat tinggal,

Tapi aku baru saja takjub, melihat kenyataan bahwa debu itu mampu terbang diantara ribuan titik-titik yang lebih pekat. Bagaimana jika aku adalah serbuk debu? Aku pasti akan lebih mampu terbang...

Di titik ini, hidupku selalu membangunkanku tiba-tiba ditengah malam, berteriak dan memaki, sejauh apa aku telah berjalan, sejauh apa aku telah terbang, dan mengancamku jangan sampai aku mendarat. Aku sedih, karena sekarang aku belum mampu menjawab, entah belum mendapatkan jawaban, atau terlalu malu untuk menyatakan kenyataan yang ada.
Terkadang aku ingin sekali menjadi debu-debu itu yang bahagia saja walaupun dilirik sinis oleh orang-orang, yang bahagia saja walau telah terusir ribuan kali, yang bahagia saja dan terus bisa terbang. Debu kecil itu, yang aku anggap hanya menambahkan predikat lusuh pada sepatuku. Akupun ingin seperti mereka...

Untuk debu yang tadi pagi terbang entah sekarang di mana,
Bermuaralah ditempat yang indah, 
Bisakah kau tidak membuatku iri?
Jangan terus bahagia, ketika orang-orang mengusirmu,
Sedih sedikit-sedikit juga tak apa,
Perjalananmu, aku ingin memilikinya,
Debu kecil,
Nanti, aku akan terbang lebih jauh dibanding denganmu,
Aku akan lebih bahagia dan bersahaja,