Dari Hati

dalam rindu yang tak pernah pulang

22.31

 June 19, 2025

Sudah lama aku berhasil pura-pura berdamai— seolah lupa, seolah sembuh, padahal aku simpan rindu yang amat sangat. Bahkan sekarang— rindunya menetap dan diam-diam tumbuh— menyesap pelan dan berdetak dengan lirih.

Aku masih berharap aku punya pelukmu, menggenggamku erat— menjadi jangkar di sisa-sisa hariku yang kian berat dan penuh keluh, dalam senja yang kian pucat, dalam waktu aku sering bingung harus berlabuh di mana. 

Akhir-akhir ini, aku seperti hampir remuk—- atau malah sudah— perlahan repas, retak.

Bagaimana rupaku dari atas sana? Sudahkah aku tampak lebur, seperti abu yang segan terbawa pergi? 

Aku bahkan rasanya tak kuasa untuk terisak.

Ternyata sulit, tidak semakin mudah, bahwa kehilanganmu tetap akan sulit. Aku masih saja terjatuh, dalam kenang yang tak tahu diri pulang.

Malam ini, langit redup. Maukah kau datang, semai sedikit asa di pelataran dadaku yang lengang. Panggil namaku—- dengan lembut, dengan irama indah yang ku suka seperti biasanya, seperti doa yang diam-diam kau pernah panjatkan. Ucap sedikit pujian— bahwa aku hebat walaupun hidup tanpamu berat.

Sebelum sunup datang, kalau peluk terasa berlebihan, temui saja aku dari kejauhan, biar aku bisa memandangmu walau jauh, biar aku tak semakin jatuh— semakin dalam.

Andai semesta berbelas kasih, aku titip rinduku sehelai saja, agar terbawa sayap angin— agar Tuhan sampaikan pesanku padamu…

“Aku masih terhempas dalam dinginnya rindu, masih sama seperti bertahun-tahun lalu.”

Dari Hati

23.14

September 9, 2018


Jika ada sesuatu yang terkadang mengusikmu, aku harap itu bukan kiriman umpatan jarak jauh dariku. Karena aku tak bisa untuk diam saja, membiarkanmu merebut dan menempati setiap petak lobus memoriku.

Musim hujan akan segera datang dalam beberapa minggu ke depan. Hujan juga sudah mulai sering singgah dan membawa angin beserta riuhnya pesta gumul-gumul awan abu-abu. Kemudian hatiku akan menjadi kusut sedikit demi sedikit karena terdesak kenangan yang akan sering mampir di sela jendela dan hujan. Kusut masih bukan masalah, tapi bila kusut kemudian terberai rindu yang terelakkan? Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Semakin rindu, tetapi aku semakin tak ingin bertemu.

Beberapa bulan lalu, di senja yang hangat, aku harap itu akan menjadi kenangan terakhir untuk beberapa waktu ini. Artinya, aku masih belum mau bertatap lagi dalam keadaan bingung seperti ini. 

Aku telah menyelesaikan sebagian besar urusanku, kemudian setelah lama aku tak pernah rindu sehebat ini, tiba-tiba di satu bagian otakku, di bagian parietal kanan dan kiri otakku, di mana aku menyimpan namamu, wajahmu, dan cerita tentangmu, tiba-tiba seperti kebanjiran dan meluap-luap.

Aku masih bingung harus berkata dan berbuat apa. 

Aku pikir aku telah lupa atau setidaknya hilang rasa.

Tapi ternyata kemarin-kemarin, aku hanya sesaat merasa hampa.

Dari Hati

22.20

September 3, 2018

Aku pernah lupa, kalau sebenarnya aku masih mengagumimu, jingga yang kemerahan. Saat itu, mungkin, aku sedang kalut, atau hanya sibuk dengan urusanku sendiri. Ingatanku tak kuasa untuk mempertahankan rindu itu dan kemudian menyerah untuk beberapa saat, membiarkanku menjalani hidup tanpa kerinduan untukmu. 

Tapi setelah aku mampu menempatkan semua pada tempatnya, bagian dari ingatanku muncul lagi, iya, ingatan tentang bagaimana telah lama aku menyimpanmu lama di dalam sana. Aku tak pernah khawatir sedikitpun, jika suatu saat nanti otakku mulai bosan atau ingin sesuatu yang lain. Iya, karena rinduku padamu tidak seperti jagung kernel kaleng yang mudah basi walaupun aku letakkan di lemari pendingin. Buktinya? Sampai sekarang, perasaan itu masih tetap hangat membekas, sehangat hari terakhir aku melihatmu.

Setelahmu, setelah kamu datang, kemudian pergi.
Aku tak pernah ingat, siapa lagi yang pernah singgah, karena mungkin tidak ada. Alasannya karena mungkin perasaan yang kamu tinggalkan terlalu luar biasa sehingga belum ada yang mampu menggantikan, atau waktu-waktu yang pernah kita habiskan bersama telah membuatku enggan. Aku enggan untuk memiliki kenangan-kenangan, yang pada akhirnya hanya menjadi ingatan yang menyesakkan.

Aku bukan menunggumu.

Aku juga tak berharap kedatanganmu.

Kalau aku berdoa tentangmu, itu pasti karena aku telah putus asa karena kamu enggan pergi dari perasaanku. 

Suatu saat, aku pernah berdoa, untuk setiap waktu, tiba-tiba ingatan tentangmu hadir, teguhkan hatiku, karena aku hampir selalu tak mampu menahan besarnya rindu yang menderu.


Dari Hati

16.19

January 21, 2018

As if time is not ticking, the memory of you never get old.

There has been too much thing I have kept my self, for you, to be told.

If it was only for those reasons, you should have stayed. 

You had never once, said truly how you felt. 
You had never once tried, to even say what you liked.
That way, you let us, be the word that never completed.

Your way, to be used to not saying words, to be used to agree of what I decided, shouldn't let me left distrait.


Dari Hati

Between Hustle

23.18

November 29, 2017

My heart beats crazily forget to ease.
The morning nowadays start with half running, half breathless, and half curse.

Between the hustle.

I, of course, never failed to catch you.
The morning coffee that soothes my thumping heart.
My morning caffeine lies on your weary eyes of last night's stay up.
Your restless smile appeases all worries.

Between the hustle.

Your hello is composing.



Dari Hati

Good Night Whispers

23.55

September 22, 2017

credit to @EmelyMC
If there's one I would tell about you, it would be your good night whispers.
Your deep husky voice streamed through out the night, my night.
Remember? What you never left out of your good night whispers?
a good night word, with awakening laughs.
laughs that failed me to sleep.

Remember? What I told you everyday when your call came?
to stop harassing my theta wave.  
Because your call was a sympathomimetic.
you stupefied me, making my heart got arrhythmic.




Dari Hati

In Turmoil

01.27

April 24, 2017

As if we are strangers...

Your hello was cold.

Your smile was vacant.

As if we no longer recognize one another.

To certain extend, I want to believe about miracle. It may happen, even if I am not sure of when and how, but I hope that I would meet upon a certain kind of a miracle.

Late afternoon tiptoed through the window of the living room. 

I was in turmoil.

Aren't my eyes painted with black shades? 

Aren't you see the visible scars?

I felt my self a little die either. Uneasy emotion marred my soul, practically the whole act. The air is no better, it smelled like a hassle for some reason. 


Waiting doesn't heal.

Time doesn't conceal.

The right incisively memory still persist like new.

And I have been fed up to chew.


Dari Hati

I MIght Be Wrong...

20.26

March 11, 2017

credit to: @comegatos011


This is just going to be some revelation from every inflexibility I have been holding the last twelve-months trying to be out of my comfort zone from being an individualist-person, the home-person who rather go home than straying out thinking about things.

I have been into my self too much, maybe, for others to see. But it's just the enough dosages that I want to be into me, my self, and I. Where I put a box inside my mind and eliminate any aliens things out of my box of thinking. Yes, it's been all about me. It just happened to be that way without me knowing that I am begun to looked like a carefree person from anyone's problems, an phlegmatic person who only knows about things that meant for me, no others. 

As I remember, I was a busy student in high-school. It wasn't a normal days  I had back then in high-school. I didn't attend classes as much as my friends did, not sitting on my seat as long as everyone did. Rather, I would be outside preparing for competitions, join training, even camps for days. I read books alone, studying for exams on my own, and I found it really fun to be doing everything alone. It was more effective and I could better grades. 

There was one day I could clearly remember when I had to have physics exams the next day while I never attended classes. I studied on my own, reading three books I bought the night before, I knew right that it was my consequences for being very active student that I needed to study harder than others. I felt ready even there was a slight uncertainties because I didn't get what my friends' got. I came to school and did the examinations quiet well. Do you know what the result I got? I got 97% while more than 70% of my friends caught on a remedial exam. And it always happened, I knew that when I study alone, I read more books and I got more knowledge while my friends usually only read their notes. And from there, I was being too comfortable for being with only my self.

I often watch alone at the cinema, getting my own popcorn and one cup of cola and sitting alone between couples, but that wasn't make me awkward at all. I understood my self the best when I am alone. 

And more...

I am going to say that I got into university in my town, around 15 to 20 minutes away from my home. But that's not my dream university. And honestly, until now I still realize it well how I envy others who are know studying in my dream university there while I am not. There was a condition that prevent me from going out of town. And up til now, I regret it so much. I blame it all on my self how I even couldn't write my dream university on my university application at that time. Why didn't I have a courage to do so?

Well, I came with my apathetic kind of character. I don't care with everything happens around, I just want to go as fast possible from the university. I am not happy, not enjoying any moment. I even tried to limit my self from any activities that would exhaust me a lot.

Up til now, my intention is still to go out as fast as possible, not suffering my heart even further.
If only I could turn back time...

This thought I bear in mind might be wrong for anyone, but I believe I do have my veto to say that I hate this and that, I want this and that, and it's all my privilege as a freedom person to choose what situation is best for me. I might be wrong, but you can't prove the bestest life to have. 

Dari Hati

21.21

December 7, 2016

Di mana rindu ini akan bermuara?
Di antara ribuan teriknya hati yang menunggu.

Rasanya, aku mulai tak percaya dan merasa tak adil tentang "waktu yang akan menjawab..."
tak adil karena lambat laun aku menjadi lelah menunggu.

Bisakah kita hentikan candaan yang mulai tak lucu ini?
Dengan apapun caranya.

 Tak terasa...
mungkin malam mulai bosan mendengarkan.
aku juga mulai bosan.

rasa itu tak memiliki dimensi.
tapi melampaui jarak dan waktu itu bukannya tak sulit kan? 
tak mudah.

hampir tujuh tahun itu bukan main-main.
lama.
dan perasaan itu masih teretensi di sini, dengan rindu dan resah yang semakin membuatnya berkarat.

untuk kesekian kalinya, aku yang menjadi ragu.

Dari Hati

Hamba kepada Tuhan-nya

19.32

October 18, 2016

Tuhan menjawab pertanyaan dan harapan hambanya melalui langit yang tak berhingga. Entah mengapa semua prahara di dunia bisa terjadi, namun pasti ada keinginan pemilik semesta ini mengatakan sesuatu pada hamba yang penuh dengan kecurigaan dan kesalahpahaman ini.

Jika aku masih saja memendam prasangka, pasti karena tak cukup imanku untuk memahami maksud pertikaian antara air mata dan kemerahan di mataku. Tapi manusia seperti aku ini memang sangat gemar menuduhkan murka sembarangan, walau sebenarnya tak pantas.

Nafasku terengah-engah, disela air mata yang tak berhenti menghujam sesak dalam dada. Ini kali kedua, aku merasa patah hati karena kekecewaan. Sekali lagi aku merasa hancur dan enggan mencari alasan atas kegagalan.

Ingin kusampaikan beribu umpat dan hujatan kepada helai angin yang seperti menertawakanku...

Aku sebenarnya sedang mencari perhatian Tuhan, walau aku tahu aku tak perlu mencari.
Aku sebenarnya sedang ingin menunjukkan kesaksian betapa sedih dan hebatnya rasa kecewa ini karena ulah Tuhan. Tapi sungguh, aku hamba yang tak tahu diri!

Janji apa yang Tuhan harusnya penuhi pada hamba-Nya ini? Janji Apa?
Tidak ada.

Karena aku bukan pemilik semesta ini. Tak ada kekuatan rasanya untuk sekedar meminta Tuhan memenuhi keserakahan hamba-Nya. Memang tak ada.
Harus apa lagi?
Jika meminta untuk dikabulkan rasanya berlebihan, maka bisakah hanya meminta saja? Hanya meminta tanpa imbuhan keinginan untuk dikabulkan?

Apalah lagi yang hamba ini bisa hidupkan? Selain bernafas bersela doa dan syukur. Pemilik semesta ini tak pernah menagih uang kontrakan.
Kalau saja Tuhan itu perhitungan, habis diri ini dijualpun tak mungkin mampu penuhi itu.

Bersyukur sajalah dengan apa yang ada, jika telah pandai bersyukur, berita apapun yang Tuhan sampaikan, tak akan ada berat di hati,

Dari Hati

21.46

September 19, 2016

Untuk hidupnya harapan...

Salahkan resah, untuk waktu yang hanyut bersama keraguan. Aku ingin salahkan gelisah, untuk penat yang membuatku susah menghela nafas. Tapi, harus aku salahkan siapa ketika arah peraduan matahari justru memimpin langkahku pada-mu yang bukan hanya kiasan. 

Tuhan sampaikan kabar indah ini, mungkin telah lama juga Tuhan tuliskan titah ini bahwa pada saat itu aku akan akhirnya memutus sejenak kerinduan, walau kini sudah mulai meracau lagi rindu itu...

Hanya bertukar pandangan-pun melegakan rasanya...
Hanya beriringan senyum-pun luar biasa bahagianya...

Yang selalu berada membentang bersama mega, walau jauh, di lipatan langit entah bagian mana.
Yang masih enggan untuk tak berada jauh...

Tiupan rinduku membeku dan menjadi embun di sela jendela kamarmu...
Di satu embun di antara rindu-rindu yang bertebaran, satu itu milikmu...
Satu itu milikmu, dan di sinilah bagian hulu dari mana rindu itu mengalir. 
Semoga tak sia-sia dan sekedar hanyut bermuara di laut yang tak terhingga...


Dari Hati

Yang Membuatku Menderita Rindu Berkepanjangan...

20.20


"Awalnya catatan ini berjudul, Gemuruh dalam Diam. Catatan yang baru saja aku baca kembali dan aku tiba-tiba merasa lucu karena pernah menuliskan hal-hal murahan itu menjadi sebuah memo panjang. Entah ketika itu apa yang aku pikirkan, tapi aku senang bisa melihat kembali bagaimana aku telah tumbuh..."

...

Gemuruh hatiku, dalam pelupuk kesendirian...

Sepi membunuh kalbu...

Meremang dan menjadi gelap, goyah...

Mendesir, menghanyutkan helai nafas...

Menapak jalan dalam kesendirian, aku selalu mencoba untuk tak mengingatmu. Dalam himpitan waktu, apalah yang bisa aku perbuat, melihatmu telah berani berjalan dalam pilihanmu sendiri. Tak mungkin aku butakan mataku, tak mungkin aku pecahkan telingaku, tapi bukan juga hal mudah membiarkanmu tetap melangkah menjauh. Hatiku menjadi geram tak main-main...

Ini kesekian kalinya aku terdorong lenganku sendiri. Berlutut bisu, dalam benak takpun ada tinta cerah menampak. Kesekian kali merasuk dalam pikuk gemuruh hati penuh dusta. Beribu waktu yang aku tapaki, ini kesekian kalinya aku merasakan basah mataku. Di bawah remangan bulan yang kusut, tak membiarkan ada sela pada wajahku. 

Hanya bangku kayu ini yang mulai keropos, yang berkenan menerima tangisanku. Mungkin bangku kayu inipun telah merasakan kesepian, seperti hatiku. Sendiri, memandang angan-angan, menjamur di tengah masa, dan tak seorangpun mampu mengerti.

Hatiku yang benar-benar sedang kacau kehilangan orientasi. Dia yang musim gugur lalu, masih bersamaku, kini telah hilang dalam kerutan masa.

"Tak baik menangis sendiri di tempat seperti ini."

Kebisuanku tergoyah, seutas suara menghancurkan dinding-dinding lamunku. Menggetarkan jantungku, yang barusan saja masih berdetak santai. Tanpa berpikir apapun, mataku bergerak mencari pemilik suara itu.

"Seberat apa masalahmu?"

Aku langsung memberatkan pandanganku pada segaris mata kecil di situ. Jari-jariku bergerak cepat menghapus titik-titik air mata di pipiku. Menyela sedikit nafasku yang tersesak isan seduanku. Aku menggeleng pelan, tapi wajahku tetap saja menyedihkan.

Itu dia...

"Tanpa kau memberi tahuku, aku mengerti seberapa berat masalahmu..." katanya lagi, kini duduk di sebelahku. Sombong sekali! Seakan dia pernah menjenguk apa isi hatiku...

Aku terdiam, tersentak dalam. Aku baru saja tersadar. Belum usai kami bercengkerama, tiba-tiba sekelilingku berubah menjadi sunyi. Aku bahkan belum selesai melepas rindu, tapi ternyata barusan hanya ilusiku.

Dia masih tak berada didekatku, jauh entah di mana.

Yang lama telah membuatku menderita rindu berkepanjangan....

...

Memo ini tercatat tahun 2010, hanya beberapa bulan sejak kepergiannya.

Ternyata rindunya masih sama pekat.